Mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan celana hitam serta memakai topi bertuliskan (+62), itulah kostum yang di kenakan oleh presiden republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo yang di dampingi oleh ibu Hj. Iriana Joko Widodo , SE, MM yang juga mengenakan baju putih berbalut selendang saat turun dari mobil Indonesia 1.  Kedatangan yang sempat berubah jadwal beberapa kali akibat kondisi cuaca serta kabut asap yang menyelimuti hampir seluruh pulau Sumatera seperti Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi dan kota lainnya di pulau Sumatera  akhirnya terlaksana juga.

Kedatangan presiden RI 1 Joko Widodo di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas dalam rangka kunjungan kerja tersebut  bertujuan untuk melihat secara langsung dilapangan setelah adanya informasi yang beliau terima tentang adanya peternakan sapi pembibitan yang pernah menjadi pusat peternakan terbesar se-Asia tenggara tersebut.

Berdasarkan sejarah pendiriaannya BPTUHPT Padang Mengatas telah eksis di Sumatera Barat sejak tahun 1916 atau sekitar 99 tahun yang lalu. Balai ini adalah station peternakan yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan ternak kuda. Pada tahun 1935 didatangkan sapi Zebu dari India dan berkembang dengan baik kemudian pada tahun 1945-1949, Peternakan terhenti karena terjadinya pergolakan.  Kondisi peternakan ini sempat hancur karena dijadikan sebagai pusat pertahanan pada waktu itu.DSC_0707

Pada dan tahun 1950 dibangun kembali oleh wakil presiden DR.HM.Hatta dan dijadikan kembali stasion peternakan pemerintah dan diberi nama dengan nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas. Pada masa 1955 – 1957 inilah Balai ini mempunyai peran besar tidak hanya di Indonesia namun juga di kawasan Asia Tenggara sehingga pada saat itu ITT Padang Mengatas merupakan stasion Peternakan yang terbesar di Asia Tenggara  dan  Ternak  yang dipelihara adalah Kuda, sapi, kambing dan Ayam.

Pada Tahun 1958 – 1961, Kegiatan terhenti karena balai ini dijadikan basis dalam pergolakan PRRI. Tepat pada tahun 1961 dibangun kembali oleh Pemerintahan Daerah Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1971 – 1973 dilaksanakan kerjasama dengan Pemerintahan Republik Jerman Barat dalam kegiatan Survey Proyek Agriculture Development Project (ADP), setelah ADP terlaksana, tahun 1974-1978 pemerintah RI melanjutkan program kerjasama aktif dengan Pemerintah Jerman melalui Proyek Agliculture Development Project (ADP) untuk pengembangan pembibitan ternak sapi (grading up). Pada masa tersebut ternak yang mulai di introduksi adalah sapi Simmental, Brahman dan PO. Sehingga sampai sekarang peternak sapi khususnya Sumatera barat sudah sangat familiar dengan sapi Simmental, Brahman dan PO karena proyek ADP tersebut.

Setelah project ADP terlaksnana, Tahun 1978 ITT berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak/ Hijauan Makanan Ternak (BPT/HMT) Padang Mengatas (SK Mentan 313/Kpts/Org/1978) dengan wilayah kerja 3 (tiga) propinsi. (Sumbar, Riau dan Jambi).

Tahun 2002, Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas memfokuskan diri memelihara ternak eksotik (Simmental). Pada Bulan Mei 2013, Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas berubah nomenclatur menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT Padang Mengatas) dengan komoditas ternak yang di pelihara adalah sapi Simmental, sapi Limousin dan sapi Pesisir (sapi asli Sumatera Barat)

Kunjungan kerja presiden yang berlangsung selama 1 jam tersebut lebih banyak menitik beratkan tentang upaya pemerintah dalam menurunkan jumlah import daging dari luar negeri. Ir.Sugiono, MP sebagai Kepala Balai juga menyakinkan presiden bahwa Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhan daging sendiri jika sistem peternakan yang dilaksanakan  seperti yang di kembangkan di BPTUHPT Padang Mengatas.

DSC_0790

Saat ini sapi di BPTUHPT Padang Mengatas sudah berjumlah 1250 ekor. Jumlah ini masih kurang dari jumlah lahan yang dimiliki yaitu 280 Ha. Ir. Sugiono, MP dalam keterangannya menyampaikan dengan luas lahan tersebut BPTUHPT Padang Mengatas mampu menampung 2000 ekor ternak sapi

Presiden Joko widodo sangat mengharapkan sistem peternakan yang di kembangkan oleh BPTUHPT Padang Mengatas, bisa di duplikasi atau di implementasi di setiap propinsi karena biaya yang di keluarkan melalui sistem pasture grazing tersebut mampu mengurangi biaya pemeliharaan karena secara tidak langsung telah mengurangi kebutuhan tenaga kerja berlebih.

Selain Presiden joko wiidodo juga akan mengundang Ir. Sugiono, MP dan Menteri pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP ke istana untuk rapat di kabinet guna mempresentasikan sistem manajeman peternakan yang dilaksanakan oleh BPTUHPT Padang Mengatas. “saya berencana akan mengundang kepala balai dan menteri pertanian tentunya ke istana untuk rapat kabinet guna mempresentasikan sistem peternakan ini” kata presiden Joko Widodo pada saat wawancara pada akhir kunjungannya di BPTUHPT Padang Mengatas.

Sebelum meninggalkan BPTUHPT Padang Mengatas, Presiden Joko Widodo dan ibu Iriana menyampaikan ucapan terimakasih atas kinerja baik karyawan/i BPTHPT Padang Mengatas, selain itu presiden beserta ibu menyempatkan untuk menanam pohon dalam rangka konservasi alam. (Rifqi Elfajri, S.Pt)

By admin

22 thoughts on “Presiden: SAYA INGIN DUPLIKASI PETERNAKAN SEPERTI INI DI SETIAP PROPINSI”

Tinggalkan Balasan

Kontak WhatsApp : +62 821-6906-4719