BPTU HPT PADANG MENGATAS MENUJU SNI BIBIT

Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan ketanahan pangan nasional untuk mewujudkan kecukupan protein hewani dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat. Salah satu komoditas peternakan yang menjadi prioritas dikembangkan adalah sapi potong untuk memenuhi permintaan daging sapi dalam negeri dan peningkatan pendapatan masyarakat. Berdasarkan data BPS tahun 2019 konsumsi daging sapinasional sebesar 2,56 kg per kapita per tahun atau mencapai 673.280 ton pertahun, dimana 40 persennya dipenuhi dari impor dalam bentuk daging beku dan bakalan.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menumbuhkan usaha peternakan sapi supaya berkembang dengan baik dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian. Beberapa upaya yang dilakukan dalam pengembangan peternakan sapi dalam negeri diantaranya peningkatan populasi ternak melalui perbaikan sistem manajemen reproduksi, perbaikan genetik ternak, pengembangan bibit unggul, penumbuhan usaha peternakan yang menerapkan sistem peternakan yang baik (Good Breeding Practice dan Good Farming Practice), penumbuhan usaha peternakan yang berorientasi bisnis dan memberikan jaminan keamanan usaha peternakan melalui asuransi ternak.

Pembangunan usaha peternakan yang berorientasi bisnis tentu akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas terhadap tumbuhnya sektor pendukung lainnya dalam satu sistem agribisnis peternakan. Pertumbuhan usaha peternakan akan memberikan dampak terhadap tumbuhnya kegiatan subsitem hulu (up stream) berupa penyediaan sarana prasarana produksi, penyediaan bibit unggul, pakan, obat-obatan, alat dan mesin pertanian. Pertumbuhan usaha subsitem budidaya (on farm) berupa kegiatan pembiakan dan penggemukan. Serta pertumbuhan usaha subsistem hilir (down stream) berupa kegiatan pasca panen, pengolahan, pemasaran dan pendistribusian.

Penyediaan bibit unggul merupkan salah satu faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan sapi potong, disamping faktor pakan dan manajemen pemeliharaan. Ketersediaan bibit yang berkualitas dimasyarakat peternak menjadi penting diupayakan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong dalam negeri. Dalam upaya penyediaan bibit sapi potong unggul, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menugaskan Unit Pelaksana Teknis Pembibitan supaya dapat menyediakan bibit sapi yang berkualitas unggul bagi peternak. Selain itu juga mendorong pemerintah daerah, swasta dan kelembagaan peternak ikut berperan dalam kegiatan usaha pembibitan sapi yang menerapkan good breeding practice dalam penyediaan bibit yang unggul dan bersertifikat, seingga ketersediaan bibit yang berkualitas mudah diakses oleh para peternak.

Sebagai salah satu UPT Pembibitan sapi unggul, BPTU HPT Padang Mengatas terus berupaya memberikan kontribusi optimal dalam menghasilkan bibit sapi yang berkualitas dan memenuhi standar SNI khususnya sapi jenis simental, limosin dan sapi pesisir. Untuk menghasilkan bibit yang berkualitas dilakukan upaya perbaikan manajemen disetiap unit yang akan mendukung kinerja produksi bibit. Penerapan prinsip Good Farming Practice dan Good Breeding Practice harus diterapkan untuk menghasilkan bibit yang berkualitas baik. Selanjutnya produksi bibit yang dihasilkan harus disetifikasi untuk memberikan keterjaminan kualitas bagi masyarakat peternak sebagai konsumen.

Dalam rangka melakukan sertifikasi SNI bibit sapi yang dihasilkan di BPTU HPT Padang Mengatas, pada tanggal 19 – 20 November 2020 telah dilakukan audit kesesuaian SNI oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) benih dan bibit ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang didampingi oleh Tim Percepatan Sertifikasi Bibit BPTU HPT Padang Mengatas. Tim LSPro Benih dan Bibit Ditjen PKH yaitu Harry Chakra Mahendra, S.Pt, M.Si sebagai ketua tim dengan anggota Ir. Eliza Diyani, MP dan Tomson Siagian, S.Pt. Kegiatan audit kesesuian diawali dengan pembukaan oleh Kepala Balai yang diwakili Ka TU BPTU HPT Padang Mengatas Ir. Yan Hendri, M.Si, selanjutnya dilakukan pemeriksaan dokumen dan uji kesesuain langsung dilapangan secara kualitatif dan kuantitatif. Dalam audit ini jumlah bibit yang dilakukan uji kesesuain sebanyak 175 ekor yang terdidir dari jenis Simental 43 ekor, Limosin 34 ekor dan Sapi Pesisir 98 ekor. Uji kesesuain dilakukan untuk melihat kesesuain bibit yang dihasilkan BPTU HPT Padang Mengatas dengan SNI bibit sapi potong, diantaranya SNI 7651-6 : 2020 untuk Sapi Pesisir, SNI 7651-8:2020 untuk sapi Simetal dan SNI 7651-9:2020 untuk sapi limosin.

Sertifiksi bibit penting dilakukan untuk memberikan keterjaminan kualitas bibit yang akan didistribusikan ke masyarakat dan UPT Pembibitan pemerintah pusat maupun daerah, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Harry Suhada, S.Pt, M.Si selaku ketua Tim Percepatan Sertifikasi Bibit BPTU HPT Padang Mengatas. Selanjutnya dikatakan BPTU HPT Padang Mengatas berkomitmen memproduksi bibit sapi potong yang memenuhi standar bibit sesuai SNI sehingga layak untuk dikembangkan di masyarakat. (AL)

Leave a Reply